TUMBUHKAN TOLERANSI ANTAR UMAT BERAGAMA, ORMAWA GELAR DIALOG TERBUKA

Malang- Majemuknya kehidupan Umat beragama di Indonesia terutama di Kota Malang akibat banyaknya pendatang dari luar daerah, membawa budaya yang beragam dari beragam suku dan agama yang berbeda namun dapat hidup dengan saling berdampingan. Hal tersebut menjadi alasan salah satu Organisasi Mahasiswa Daerah (Ormawa) untuk mengkaji lebih lanjut toleransi antar umat beragama dengan menggelar acara Dialog Terbuka, Rabu (05/05). Dialog ini merupakan sebuah sarana pendekatan untuk berkomunikasi, saling mengenal dan bertukar informasi bagi mahasiswa dan masyarakat agar nantinya dapat menumbuhkan rasa saling pengertian, terutama tentang karakter dan budaya. Sekaligus untuk meminimalisir stigma negatif terhadap mahasiswa dari daerah Timur yang selama ini berkembang di masyarakat.

Kegiatan yang diadakan di salah satu Café tersebut mengusung tema “Hidup Toleransi Antara Umat Beragama dalam Kebudayaan yang Majemuk” oleh Ikatan Mahasiswa Sumba Barat Daya Malang Raya (Ikmah-SBD Malang Raya). Dengan menghadirkan 2 orang yakni Markus Dominggus, DSA (Dewan penasehat Ikmah-SBD Malang Raya) dan Muhammad Fauzy Emqi, S.Pd.I., M.Pd.I.

Salah satu pemateri kegiatan yang juga sekaligus dosen Pendidikan Agama Islam Universitas Tribhuwana Tunggadewi (UNITRI) Malang, Muhammad Fauzy Emqi, S.Pd.I., M.Pd.I, toleransi bemuara pada titik persamaan “kemanusiaan”.

“Atas dasar kemanusiaan, kita belajar untuk melihat hidup yang beragam namun tidak seragam ini harus dijalani. Contoh kasus yang menarik dana dapat menjadi concern saat ini adalah keberadaan kaum minoritas transgender, disabilitas dan ODB”ungkapnya.

Ia pun menambahkan bahwa ketiga kelompok tersebut perlu mendapatkan ruang publik dan juga perhatian khusus agar dapat mereduksi hal-hal yang selama ini dinilai negatif ditengah masyarakat. Sehingga, permasalahan sosial masyarakat sudah, mulai berkembang tidak pada persoalan Suku, Agama, Ras dan Antar Golongan.

Selain itu, Pemateri lainnya, Markus Dominggus, berharap kedepannya, semoga dialog yang serupa masih bisa terus berlanjut dan lebih sering diadakan dengan mengundang berbagai elemen masyarakat, baik akademisi, tokoh masyarakat, dan budayawan, agar adik-adik mahasiswa dapat belajar dan beradaptasi dengan budaya dan karakter yang berbeda dengan daerah asal mereka. (HUMAS)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*