Selayang Pandang Ibu Tersayang

            Peringatan Hari Ibu yang diadakan oleh Dharma Wanita Unitri merupakan kegiatan yang sangat penting. Kegiatan yang dilaksanakan di GOR, Rabu ( 3 Januari 2018) didedikasikan untuk para ibu Indonesia. Rien Bambang Guritno, istri Prof. Dr. Ir Bambang Guritno salah satu pendiri Universitas Tribhuwana Tunggadewi memberi nasihat dan wejangan yang cukup berkesan bagi kaum perempuan yang hadir pada acara tersebut. Wejangan tersebut tertuang dalam “Selayang Pandang Ibu Tersayang” karya Rien Bambang Guritno.

Selayang Pandang Ibu Tersayang

(oleh Rien Bambang Guritno)

           Kata ibu sebetulnya adalah sebutan yang paling indah dan sangat terhormat. Bukan hanya bagi mereka yang melahirkan, tetapi juga sebutan lazim untuk wanita dewasa.  Apalagi yang pantas dan dapat menjadi panutan. Oleh sebab itu kata ibu sering disamakan dengan peran apapun statusnya ibu dalam keluarga, ibu sebagai wanita karya ataupun cendekiawan sebetulnya mempunyai tugas yang sama antara lain sebagai pengayom (peneduh), penenang dan pendidik untuk keluarga, lingkungan maupun generasi  selanjutnya.

            Dan yang lebih penting lagi adalah siapapun dia, apapun statusnya sebutan ibu diharapkan dapat membuat suasana aman, nyaman dan dapat menjadi contoh yang baik secara nyata pada generasi penerus dan pada lingkungannya. Dengan berlaku bijak memberi teladan antara lain mengenai kecerdasan dalam emosi kecerdasan dalam spiritual, dan kecerdasan dalam ilmu.

            Kecerdasan dalam emosi dapat disamakan dengan bagaimana cara mengelola hati dan perasaan. Hal ini antara lain mengenalkan tentang cinta, perikemanusiaan, dan toleransi pada sesama. Kasih sayang dengan bijaksana yang diberikan oleh seorang ibu akan membangkitkan pula kasih sayang yang tulus pada anak atau anak didiknya. Dan ketegasanpun akan menjadi bekal untuk menjadi pribadi yang kuat dan tidak “Semau Gue”. Tentu pengertian tentang etika dan sopan santun turut membantu dalam menguasai emosi. Disini seorang ibu diharapkan dapat mengajarkan tentang sifat bijak yang akhirnya menuju kedamaian.

            Sedang kecerdasan dalam spiritual tentunya diperkenalkan pada suara hati nurani, arti kebaikan dan untuk apa berbuat baik. Ibu memperkenalkan arti ikhlas serta bagaimana untuk pandai bersyukur. Apapun kepercayaannya semua harus bermuara pada kebijakan dan kebajikan. Paling tidak harus mengerti dan dapat membedakan antara yang baik dan yang buruk. Dan tentu menghindari hal yang buruk. Sebab pada akhirnya nanti, semua akan kembali pada Sang Pencipta. Sehingga kecerdasan spiritual pun dapat diartikan pengertian untuk berhubungan dengan TUHAN YME, walaupun dengan cara yang berbeda. Disini peran ibu untuk mengajarkan mengerti tentang perbedaan sangat diperlukan. Agar mengerti bagaimana menghadapinya dengan kasih sayang.

            Dan kecerdasan dalam ilmu tentunya dapat dihubungkan dengan tanggung jawab masa depan. Manusia diberi otak sebagai bekal untuk berpikir yang baik, namun harus sesuai dengan kemampuan¸ dan harus pula dipergunakan secara optimal. Tetapi perlu pula ditekankan bahwa boleh berambisi namun jangan ambisius. Bukankan ambisi yang sehat sangat dibutuhkan untuk mencapai kemajuan. Disini ibu dengan bijaksana diharapkan turut melatih untuk meningkatkan kecerdasan secara bijaksana. Sebab seperti diketahui tingkat kecerdasan orang tidak sama. Diarahkan tanpa paksa, walau tugas bapak dalam hal ini dituntut lebih banyak. Tetapi paling tidak ibu memberi contoh untuk menimbulkan semangat tanpa pemaksaan.

            Dengan kurangnya memiliki kecerdasan – kecerdasan tersebut menyebabkan seringkali menjadi pribadi yang lemah dan mudah terjebak oleh hal – hal yang negatif antara lain juga oleh obat – obatan terlarang termasuk narkoba. Oleh sebab itu demikian kompleksnya tugas seorang ibu.  Sehingga demikianlah seorang ibu dapat disebut sempurna bila peran dan tugasnya antara lain membuat ketiga aspek di atas akhirnya dapat bermuara pada pengertian tentang cinta, kebijaksanaan, dan kejujuran. Sehingga peringatan “HARI IBU” tidak hanya diadakan secara seremonial saja. Tetapi diwujudkan dalam kehidupan sehari – hari berupa contoh yang baik dan dibanggakan oleh anak bangsa. Marilah kita merenung sudahkah tugas kita sebagai ibu telah melaksanakan dengan baik tanpa ambisi berupa penampilan saja atau tanpa ambisi untuk kepentingan pribadi. Marilah kita renungkan bahwa untuk menjadi sosok ibu yang di dalam kesibukannya, tetap menjadi contoh dan teladan dalam kesederhanaan penampilan serta perwujudan yang baik dalam bentuk tindakan. Semua ini demi untuk generasi penerus, keluarga, dan anak bangsa.

SELAMAT HARI IBU

(Tim Humas)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*