DOSEN KOMUNIKASI UNITRI LAKUKAN SURVEY PEMBELAJARAN ONLINE

Malang – Di tengah wadah Covid-19 yang semakin marak, beberapa Universitas mengambil kebijakan khusus untuk mengganti sistem perkuliahan menjadi non-tatap muka atau daring, salah satunya yakni Universitas Tribhuwana Tunggadewi (UNITRI) Malang. Sistem perkuliahan daring ini secara mendadak berubah dan membuat banyak mahasiswa maupun dosen menjadi kewalahan. Banyaknya kendala yang dialami mahasiswa maupun dosen tersebut akhirnya memicu salah satu dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UNITRI, Sulih Indra Dewi, S.Sos., MA melakukan survey terkait Persepsi mahasiswa UNITRI terhadap Pembelajaran Online atau Daring.

Dosen pengampu Mata Kuliah Psikologi Komunikasi tersebut menjelaskan, survey ini berawal dari bagian tugas kuliah mahasiswa. Survey yang berisi 30 pertanyaan terbuka dan tertutup tersebut, dilakukan dengan sistem online dan dibagian melalui kuesioner di kelas-kelas yang diampunya. Selain mahasiswa yang mengikuti mata kuliahnya, Sulih Indra Dewi, S.Sos., MA meminta mahasiswa membagikan angket tersebut kepada seluruh temannya dari berbagai jurusan lainnya.

“Hingga saat ini, survey ini masih berjalan sampai minggu ini. Sementara mahasiswa yang mengisi angket berjumlah 170 mahasiswa dari berbagai jurusan.” Ungkapnya saat di temui tim Humas.

Berdasarkan survey yang sejauh ini dilakukan, tambah Sulih, Ia banyak menemukan hal-hal menarik dari temuan data yang dikelolanya. Sistem perkuliahan daring mengharuskan mahasiswa memiliki fasilitas pembelajaran yang sepadan sehingga mahasiswa dapat mengikuti kuliah dengan baik dan layak. Tetapi, ternyata banyak mahasiswa UNITRI hanya memiliki gadget berupa Handphone dan tidak semua mahasiswa memiliki laptop. Di luar dari permasalahan fasilitas penunjang pembelajaran, pemahaman mahasiswa terkait sistem daring masih belum kuat. Hal ini terlihat dari belum siapnya mahasiswa menerima materi daring, belum bisa membagi waktu dalam mengerjakan tugas, hingga seringnya mahasiswa mengeluh mendapatkan tugas yang menumpuk. Selain data tersebut, temuan lain yang di dapat ialah sebanyak 60% responden mengatakan sedih dengan adanya sistem lockdown di kampus. Hal ini mengingat, mahasiswa yang biasanya banyak menghabiskan waktu di kampus, tidak dapat aktif Kembali berkegiatan seperti biasanya. Pembelajaran online memang berbeda dengan kuliah tatap muka yang bebas bertanya jawab dengan dosen secara langsung. Sulih mengatakan, pro kontra sistem perkuliahan online selama masa lockdown masih banyak terjadi di mahasiswa.

“Dari data, sebanyak 37% mengaku setuju dengan kuliah online dan 39% mengaku tidak setuju dengan kuliah online. Alasannya adalah mereka syok dan belum siap dengan sistem yang mendadak ini.”

Angka tersebut jelas menjadi evaluasi bersama antara mahasiswa dan dosen bersangkutan. Meski Ia sepaham dengan mahasiswa terkait susahnya pembelajaran online, Ia mengatakan bahwa pembelajaran ini juga memiliki sisi positif yang dapat dimanfaatkan. Ia berharap, survey ini dapat menjadi bahan pertimbangan para dosen lainnya untuk menyiapkan cara pembelajaran secara alternatif bagi mahasiswa, khususnya mahasiswa UNITRI. Terlebih di era teknologi dewasa ini, banyak alternatif pembelajaran yang cocok untuk diterapkan selain menggunakan Whatsapp atau email seperti misalnya aplikasi Zoom, Google Classroom, dan lainnya sehingga nantinya baik dosen maupun mahasiswa dapat terus belajar dengan lebih baik.

“Saya pribadi juga pernah memakai aplikasi Zoom untuk perkuliahan. Dari 40-50 mahasiswa, kadang yang bergabung 20-25 mahasiswa. Alternatif yang saya lakukan adalah merekam perkuliahan yang berlangsung sehingga nantinya saya bisa bagikan hasil perkuliahan online tersebut kepada mahasiswa yang tidak mengikuti kuliah.” Tutupnya. (HUMAS)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*