BAHAS ISU GEMPA DAN BANJIR, FKMTSI GELAR SEMINAR DAN CAMP

Forum Komunikasi Mahasiswa Teknik Sipil Seluruh Indonesia (FKMTSI) regional IX Jawa Timur menggelar seminar dan camp bertajuk ‘Meleburkan Perbedaan Dalam Kebersamaan Keluarga’, Jumat-Sabtu (19-20/10). Dalam acara tersebut, Universitas Tribhuwana Tunggadewi berbangga diri dapat menjadi tuan rumah penyelenggara dan menghadirkan seminar yang membahas terkait ‘Strategi Pembangunan Infrastruktur Atasi Banjir dan Gempa’. Isu ini diambil bersamaan dengan situasi akademis saat ini yang mulai mengemuka dan diharapkan mahasiswa teknik dapat belajar bagaimana cara mengatasi, mengantisipasi dan membangun bangunan tahan gempa dan banjir.

Ketua pelaksana kegiatan, Soli deo Gloria menjelaskan, acara ini diikuti oleh total 200 peserta dari berbagai perguruan tinggi yang memiliki program studi teknik sipil di seluruh Jawa Timur seperti Universitas Kediri, Universitas Yudhartapas, Universitas Jember, Universitas Wiraraja, Unigoro, Undar, Universitas Poliwangi, Unesa, Universitas Surabaya, Unisla, Universitas Narutama, Unisma, Unej, hingga Unitri. Sementara seminar hari ini mengundang pemateri yakni Dr Agus Tugas Sudjianto, ST., MT (Warek III Univ Widyagama Malang) dan Ariet Setiawan, ST.MT (Perum jasa tirta 1).

Dalam diskusi panel yang dimoderatori dosen Fakultas Teknik Unitri, Dian Noorvy Kh, Dr.ST., MT, wakil rektor III Universitas Widyagama Malang menjelaskan tiga prinsip penting dalam membangun bangunan tahan gempa yakni terletak pada pondasi, kolom dan balok.

“Pondasi yang bagus harus berada atau diletakkan di lapisan tanah keras. Kedalaman minimal pondasi sekitar 60-80cm. Kemudian pasangan batu gunung atau sungai dipasang setelah tanah urug dan stamping. Serta penguatan angkur pondasi dengan sloof. Sementara kolom utama ukuran 15cm x 15cm. Kolom praktis 13cm x 13cm. Kolom diikat oleh sengkang yang daktail. Pengecoran kolom yang baik dengan mutu beton 150 kg/cm2. Sedangkan yang terakhir adalah balok.”

Agus juga menekankan bahwa tiga komponen lain yang juga penting adalah perencana, pelaksana, dan pengawas. Sementara pemateri kedua Ariet dari Perum Jasa Tirta menjelaskan prinsip kesiapsiagaan bencana yang selama ini dilakukan perum jasa tirta.
Dekan Fakultas Teknik Unitri, Dr Nawir Rasidi, ST., MT mengaku senang mahasiswa Unitri dapat berperan aktif di ajang regional seperti ini. Selain karena Forum ini merupakan organisasi antar perguruan tinggi, peran FKMTSI dapat memacu keaktifan mahasiswa untuk terus terlibat dalam tri dharma perguruan tinggi seperti penelitian, pengabdian kepada masyarakat, dan pendidikan.

“Mudah-mudahan mahasiswa Unitri lebih banyak berperan di forum-forum nasional seperti ini, tidak hanya di dalam kampus, tapi juga dapat berkomunikasi antar mahasiswa teknik sipil seluruh Indonesia. “

Seperti disampaikan, Unitri sudah dua kali menjadi tuan rumah penyelenggaraan acara FMKTSI. Sebelumnya pada 2014, berbagai perguruan tinggi yang tergabung dalam FMKTSI Regional juga pernah berkunjung ke Unitri. Tahun ini, acara dikonsepkan berbeda selama dua hari. Di hari pertama, dilakukan seminar dan kemudian dilanjutkan camp bersama. (HUMAS)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*